SUARAPUBLIC – Tampaknya facebook tidak bisa sepenuhnya dimaknai sebagai jejaring pertemanan. Pasalnya, layanan facebook juga menjadi media perseteruan. Di Sorong, Papua Barat, FD (31) diduga telah menghujat Fanny Yapari (33) via facebook gara-gara memacari adiknya. Fanny tidak terima, lantas melaporkan FD ke Polresta Sorong, dengan tuduhan pencemaran nama baik.
Kapolresta Sorong AKBP Johannes Nugroho Wicaksono didampingi Kasat Reskrim AKP Slamet Haryono T yang diminta konfirmasi membenarkan, adanya kasus pencemaran nama baik yang dilaporkan oleh korban. Dalam keterangannya kepada polisi, Fanny Yapari menuturkan, kasus pencemaran nama baik tersebut terjadi pada 7 Februari lalu.
Sekitar pukul 17.30 WIT, FD yang disebutkan karyawan di salah satu perusahaan swasta, tidak menyetujui korban berpacaran dengan adiknya, sehingga pelaku menghujat korban lewat jaringan facebook hingga 12 kali.
"Korban tidak terima dengan perlakuan pelaku yang dianggap telah mencemarkan nama baiknya. Korban pun menempuh upaya hukum dengan melayangkan laporan ke Polresta. Dugaan awal sampai terjadi hujatan, karena pelaku tidak terima korban pacaran dengan adiknya. Itu saja, tapi karena ini sudah masuk dalam proses hukum. Setiap laporan dugaan tindak pidana, ya kita proses,” jabar Kapolresta.
Kapolresta mengatakan, pihaknya telah menyita barang bukti berupa 12 lembar copian up date jaringan facebook dari pelaku yang ditujukan kepada korban. Pihaknya saat ini masih memintai keterangan dari korban, kemudian akan melayangkan panggilan kepada pelaku.
Kapolresta menjelaskan, pelaku terancam dijerat dengan pasal 310 KUHP. Fanny Yapari, yang beralamat di Jln Yos Sudarso No 31 Lido Kampung Baru, melaporkan kasus ini ke polisi pada Kamis (25/2) lalu.(*)
Edwin van der Sar Sebut Manchester United Kehilangan Karakter
-
Edwin van der Sar meminta manajer Manchester United untuk segera
membangkitkan motivasi para pemain. Manchester United mengundang perhatian
dari para manta...
5 tahun yang lalu
Posting Komentar
Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi SUARAPUBLIC. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan